1.
Kelotok
Kelotok adalah perahu
bermotor yang terdapat di sungai-sungai
Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
2.
Lamut
Lamut adalah sebuah tradisi berkisah yang berisi cerita
tentang pesan dan nilai-nilai keagamaan, sosial dan budaya Banjar.
Lamut merupakan seni cerita bertutur, seperti wayang atau cianjuran. Bedanya,
wayang atau cianjuran dimainkan dengan seperangkat gamelan
dan kecapi,
sedangkan lamut dibawakan dengan terbang, alat tabuh untuk seni hadrah.
Mereka yang baru
melihat seni lamut selalu mengira kesenian ini mendapat pengaruh dari Timur Tengah.
Pada masa Kerajaan Banjar dipimpin Sultan Suriansyah, lamut hidup bersama
seni tutur Banjar yang lain, seperti Dundam,
Madihin,
Bakesah, dan Bapantun.[1]
Pelaksanaan
Lamut akan dilakukan pada malam hari mulai pukul 22.00 sampai pukul 04.00 atau
menjelang subuh tiba. Pembawa cerita dalam Lamut ini diberi julukan Palamutan.
Pada acara, Palamutan dengan membawa terbang besar yang diletakkan
dipangkuannya duduk bersandar di tawing halat (dinding tengah),
dikelilingi oleh pendengarnya yang terdiri dari tua-muda laki-perempuan. Khusus
untuk perempuan disediakan tempat di sebelah dinding tengah tadi.
3.
Madihin
Madihin (berasal dari kata madah
dalam bahasa Arab yang berarti "nasihat", tapi
bisa juga berarti "pujian") adalah sebuah genre puisi dari suku Banjar.
Puisi rakyat anonim
bergenre Madihin ini cuma ada di kalangan etnis Banjar
di Kalsel saja. Sehubungan dengan itu, definisi Madihin dengan sendirinya tidak
dapat dirumuskan dengan cara mengadopsinya dari khasanah di luar folklor
Banjar.
Tajuddin Noor Ganie (2006) mendefinisikan
Madihin dengan rumusan sebagai berikut : puisi rakyat anonim bertipe
hiburan yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar dengan bentuk fisik
dan bentuk mental tertentu sesuai dengan konvensi yang berlaku secara khusus
dalam khasanah folklor Banjar
di Kalsel.
4.
Mamanda
Mamanda adalah seni teater atau pementasan tradisional yang
berasal dari Kalimantan Selatan. Dibanding dengan seni
pementasan yang lain, Mamanda lebih mirip dengan Lenong
dari segi hubungan yang terjalin antara pemain dengan penonton. Interaksi ini
membuat penonton menjadi aktif menyampaikan komentar-komentar lucu yang
disinyalir dapat membuat suasana jadi lebih hidup.
5.
Naga
Badudung
Naga Badudung adalah suatu bentuk naga yang dibuat
dari kayu dengan leher tegak, kepala datar, mulut menganga, mata melotot dan
lidah menjulur.
Patung serupa
sampai saat ini masih banyak disimpan oleh beberapa kelompok masyarakat di Hulu Sungai,
dan dirawat secara berkala atau pada waktu tertentu 'diberi' kembang.
Naga tersebut
diletakkan di samping pelaminan pengantin, dipasang pada haluan perahu yang
membawa pengantin, dibuatkan badan dalam upacara bananagaan (di Banua Halat,
Tapin,
dalam upacara Baayun Mulud), dipercaya di Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungai Selatan bahwa air siraman naga
tersebut dapat menyembuhkan penyakit.
Dalam upacara
perkawinan, naga dianggap sebagai penolak bala, yang bisa menawarkan gangguan
alam (angin ribut dan hujan lebat) dan simbol pengharapan agar mempelai tidak
mendapat halangan dalam bahtera rumah tangga.
6.
Rumah
Bubungan Tinggi
Rumah Bubungan Tinggi adalah salah satu rumah
tradisional suku Banjar (rumah Banjar)
di Kalimantan Selatan dan bisa dibilang
merupakan ikonnya Rumah Banjar karena jenis rumah inilah yang paling terkenal
karena menjadi maskot rumah adat khas provinsi Kalimantan Selatan.
7.
Sasangan
Sasangan adalah wadah yang terbuat dari kuningan yang dibuat
oleh masyarakat suku Banjar rumpun Negara
dari kota Negara, Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan.
Sasanggan (bokor) biasanya digunakan dalam upacara adat suku Banjar
di Kalimantan Selatan.
Asal muasal Tari Radap Rahayu adalah ketika Kapal Perabu Yaksa yang ditumpangi Patih Lambung Mangkurat yang pulang
lawatan dari Kerajaan Majapahit, ketika sampai di Muara Mantuil dan akan
memasuki Sungai Barito, kapal Perabu Yaksa kandas di tengah jalan. Perahu
menjadi oleng dan nyaris terbalik. Melihat ini, Patih Lambung Mangkurat lalu
memuja “Bantam” yakni meminta
pertolongan pada Yang Maha kuasa agar kapal dapat diselamatkan. Tak lama dari
angkasa turunlah tujuh bidadari
ke atas kapal kemudian mengadakan upacara beradap-radap. Akhirnya kapal tersebut kembali normal dan tujuh
bidadari tersebut kembali ke Kayangan. Kapal melanjutkan pulang ke Kerajaan
Dwipa. Dari cerita ini lahirlah Tari “Radap
Rahayu“ ( anonim ). Tarian ini sangat terkenal di Kerajaan Banjar karena
dipentaskan setiap acara penobatan raja serta pembesar-pembesar kerajaan dan
juga sebagai tarian penyambut tamu kehormatan yang datang ke Banua Banjar,
upacara perkawinan, dan upacara memalas banua sebagai tapung tawar untuk
keselamatan. Tarian ini termasuk jenis tari klasik Banjar dan bersifat
sakral.Dalam tarian ini diperlihatkan para bidadari dari kayangan turun ke bumi
untuk memberikan doa restu serta keselamatan . Gerak ini diperlihatkan pada
gerakan awal serta akhir tari dengan gerak “terbang layang”. Sayair lagu Tari Radap Rahayu diselingi dengan
sebuah nyanyian yang isi syairnya mengundang makhluk-makhluk halus ( bidadari )
ketika ragam gerak “Tapung Tawar”,
untuk turun ke bumi. Jumlah penari Radap Rahayu selalu menunjukkan bilangan
ganjil, yaitu : 1,3,5,7 dan seterusnya. Tata Busana telah baku yaitu baju layang. Hiasan rambut
mengggunakan untaian kembang bogam.
Selendang berperan untuk melukiskan seorang bidadari, disertai cupu sebagai
tempat beras kuning dan bunga rampai untuk doa restu dibawa para penari di tangan
kiri.
9.
Wayang
Gung
10. Wayang Kulit Banjar
Wayang Kulit Banjar adalah wayang kulit
yang berkembang dalam budaya suku Banjar
di Kalimantan Selatan maupun di daerah perantauan suku seperti di Indragiri Hilir.